“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?. (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan. Yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang”
Mufradat
(هُمَزَةٍ )
- Orang yang menyimpan dendam dan kebencian, berkata Ziyad al-A’zam dalam syairnya;
تُدلِي بوُدِّي إذا لاقَيْتَنِي كَذِبا… وَإنْ أُغَيَّبْ فأنتَ الهامِزُ اللُّمَزَهْ.
- Ketika Ibnu Abbas ditanya tentang Humazah dan Lumazah;
من هؤلاء هم الذين بدأهم الله بالويل ؟ قال: هم المشاءون بالنميمة، المفرقون بين الأحبة
“Siapa diantara mereka yang dikatakan oleh Allah akan mendapat kecelakaan ?” beliau menjawab “Mereka yang suka berjalan dengan namimah, memecah belah antara kekasih”.
- Menurut Mujahid, “Humazah” adalah mereka yang suka membicarakan aib orang lain dan “Lumazah” mereka yang suka mencela.
- Dan ada juga yang mengatakan “Humazah” dengan lisan dan “Lumazah” dengan isyarat.
- Menurut Abu Aliyah, Humazah menghina di hadapan orangnya sedang Lumazah dibelakangnya.
Para ulama berbeda pendapat ketika membahas; Siapakah yang dimaksud dalam ayat ini ?
-
- Menurut Al-kalbi: ayat ini diturunkan untuk Akhnas bin Syuraiq bin Wahab at-Tsaqafi, sebab dia selalu mencela dan menghina orang lain.
- Muhammad bin Ishak mengatakan “Ayat ini diturunkan untuk Umayyah bin Khalaf al-Jumahi.
- Berkata Muqathil “Ayat ini diturunkan untuk al-Walid bin Mughirah, dia dahulu pernah mengejek dan menghina Rasulullah di belakang dan di depannya.
- Ada juga yang mengatakan ayat ini diturunkan kepada Jamil bin A’mir al-Jumahi.
- Mujahid mengatakan “Ayat ini diperuntukkan bagi siapa saja yang suka mencela baik secara terang-terangan atau dari belakang dengan lisannya atau dengan isyarat.
( الَّذِي جَمَعَ مَالا وَعَدَّدَهُ (
Mereka yang mengumpulkan harta, menghitung-hitung dan tidak mensedekahkan di jalan Allah serta tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah berkenaan dengan hartanya. Mereka bersifat bakhil.
Muhammad bin Ka’ab berkata “Maksud ayat ini, hartanya menjadi sebab dirinya lalai kepada Allah di siang harinya dan di malam hari tidur bagaikan bangkai”.
( لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ )
Mereka akan dilempar ke dalam neraka Huthamah, dinamakan Huthamah sebab semua yang dilempar ke dalamnya akan hancur
نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الأفْئِدَةِ
- Yang sakitnya hingga ke hati
- Saat membaca ayat ini, Tsabit al-Bunani mengatakan “Api itu menghanguskan seluruh tubuhnya hingga ke hati tetapi dia tetap hidup sungguh sangat pedih siksanya” Lalu dia menangis.
- Muhammad bin Ka’ab “Seluruh tubuhnya hangus namun bila telah sampai di hatinya tubuhnya kembali seperti semula”.
Ya’kub dari Ja’far dari Said beliau berkata “Di dalam neraka ada seseorang yang berteriak dengan mengucapkan “Ya Hannan Ya kepada Malaikat Jibril; Wahai Jibril, keluarkan hamba-Ku dari neraka itu ! kemudian Malaikat Jibril memasuki neraka tetapi dia kembali lagi dengan mengatakan “Ya Allah, dia itu berlapis-lapis dan dalam keadaan terikat”, Allah berkata “Wahai Jibril, dengan seizinkan kembalilah !”, lalu Malaikat Jibril mengeluarkan orang itu yang sudah dalam keadaan hangus dan tidak tersisa kecuali hanya tulang belulang saja, kemudian dia diletakkan di pinggir surga. Tiba-tiba tubuhnya ditumbuhi daginga dan rambut dan darah.
( فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ )
Berkata Ibnu Abbas “Mereka masuk ke dalam neraka dalam keadaan terikat di tiang-tiang dan lehernya terikat dengan rantai lalu pintu neraka itu ditutup.
Menurut Ibnu Zaid “Tiang itu terbuat dari besi yang terbakar dan tiang itu merupakan siksa tersendiri”.
30. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.
31. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
32. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.
33. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Maha besar.
34. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.
35. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari Ini di sini.
36. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah.
