Abdullah bin Rawahah
Abdullah bin Rawahah Penyairnya Rasulullah
Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah bin UmrulQais bin Tsa’labah al-Anshari al-Khazraji al-badriy. Qutaibah mengatakan; Ibnu Rawahah dan Abu Darda adalah dua bersaudara dari ibu.
Ibnu Rawahah merupakan salah satu sahabat Rasul yang sangat pandai dalam Syair bahkan beliau termasuk salah satu sahabat yang pakar dalam membuat syair. Dikatakan; Yang penyair Rasul di masa itu ada tiga orang yaitu; Abdullah bin Rawahah, Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Malik.
Ibnu Rawahah adalah seorang sahabat Rasul yang sangat mencintai majlis ilmu. Sudah menjadi kebiasaannya jika bertemu dengan seseorang beliau selalu mengatakan;
تَعَالَ نُؤْمنُ سَاعَةً
“Mari kita beriman kepada Allah Sesaat”
Suatu hari, ada seorang sahabat yang tidak setuju dengan perkataan Ibnu Rawahah ini akhirnya dia mengadukan kepada Rasul tetapi Nabi Muhammad menjawabnya;
رَحمَهُ اللهُ إبْنَ رَوَاحَة, إنهُ يُحب الْمَجَالسَ التى تَتَباَهَى بهَا الْمَلاَئكَةُ
“Semoga Allah menyayangi Ibnu Rawahah, sesungguhnya dia mencintai majlis-majlis yang dibanggakan oleh para malaikat”
Abdullah bin Rawahah sangat mencintai Rasul dan kecintaannya itu dapat terlihat bagaimana beliau selalu berusaha untuk mengikuti perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad. Suatu hari, Rasul pernah memerintahkan kepada para sahabat yang saat itu sedang berada di dalam masjid untuk duduk tetapi Ibnu Rawahah yang mendengar perintah Rasul itu dia langsung duduk padahal ketika itu beliau sedang berada di luar masjid, akibat dia duduk di jalanan di bawah teriknya matahari. Saat mengetahui perbuatan Ibnu Rawahah ini akhirnya Rasul bersabda: “Semoga Allah menjaga keta’atan kamu kepada Allah dan Rasulnya”.
Ibadahnya;
Berkata Abu Darda’; Dahulu kami pernah mengadakan perjalanan jauh di terik matahari bersama Rasul, karena cuaca yang begitu panas akhirnya kami semua membatalkan puasa kecuali Rasulullah dan Ibnu Rawahah yang kuat dan meneruskan puasanya.
Berkata Istri Ibnu Rawahah; Abdullah bin Rawahah jika hendak keluar dan masuk ke rumahnya selalu beliau mendirikan sholat dua raka’at dan kebiasaannya ini tidak pernah beliau tinggalkan hingga akhir hayatnya.
Seringkali Abdullah bin Rawahah menangis tanpa sebab. Suatu hari, saat istrinya melihat Ibnu Rawahah menangis beliau ikut menangis di sisinya, melihat prilaku istrinya ini Abdullah bertanya; Mengapa dan ada apa engkau menangis wahai istriku ?, istrinya menjawab; “Aku menangis semata-mata karena mengikuti kamu wahai suamiku”. Ibnu Rawahah mengatakan; “Sungguh aku menangis lantaran mengingat kehidupan akherat, bukankah kita semua nanti akan melewati siratal mustaqim dan tidak mengetahui apakah termasuk orang yang diselamatkan atau tidak ?”.
Abdullah bin Rawahan gugur secara syahid di peperangan mu’tah.
