• Beranda
  • Aqidah
  • Daftar Isi
  • FILE DOWNLOAD
  • Fiqih
  • Hadits
  • Jadwal Ta’lim dan Haul
  • Profile
  • Sejarah
  • Tafsir
  • Tauhid
  • Tokoh
  • Umum

Majelisnurulfajri's Blog

Sekedar Kalam untuk Pencerahan

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Imam Muslim
Jadwal Haul »

Karbala

23 Februari 2009 oleh majelisnurulfajri

Syahidnya

Sayyidina Husain cucu Rasulullah – Bag. 1

Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan, ibunya bernama Maisun binti Bhadal bin Anif al-kalbi. Lahir pada tahun dua puluh enam Hijriah, beliau diangkat menjadi raja pada bulan Rajab tahun enam puluh Hijriah dan saat itu ia berusia mencapai tiga puluh empat tahun.

Pada waktu itu yang menjadi gubernur Madinah; Al-Walid bin Utbah bin Abi Sufyan. Gubernur Basrah; Ubaidillah bin Ziyad. Gubernur Mekkah Amr bin Said bin Ash. Gubernur Kufah; Nukman bin Basyir.

Perjalanan Sayyidina Husain dan Ibnu Zubair ke Mekkah.

Ketika Muawiyah sakit keras beliau sempat memberikan nasehat sebelum wafatnya kepada putranya Yazid;

اُنْظُرْ حُسَيْنَ بْنِ عَلِيٍّ بْنِ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ، فَإنَّهَ أَحَبَّ النَّاسِ إِلىَ النَّاسِ، فَصِلْ رَحِمَهُ، وَارْفَقْ بِهِ، يَصْلُحُ لَكَ أَمْرَهُ، فَإنْ يَكُنْ مِنْهُ شَئ فَإِنِّي أَرْجُوْ أَنْ يَكْفِيَكَهُ الله ُبِمَنْ قَتَلَ أَبَاهُ وَخَذَلَ أَخَاهُ.

“Perhatikanlah Husain bin Ali bin Fathimaha binti Rasulillah, sesungguhnya dia adalah orang yang dicintai oleh masyarakat, sambunglah kasih-sayangnya dan berlemah-lembutlah dengannya, menjadi baik urusan kamu dengannya. Jika terjadi sesuatu dengannya sungguh aku berharap Allah mencukupkan baginya terbunuhnya ayah dan ditipunya saudaranya“.

Muawiyah wafat pada pertengahan bulan Rajab tahun enam puluh Hijriah, setelah itu penduduk Syam membaiat Yazid. Ketika Yazid menjadi pemimpin dia langsung menulis Surat kepada gubernur Madinah yang isinya;

بسم الله الرحمن الرحيم.

مِنْ يَزِيْد أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ إلىَ الوَلِيْدِ بْنِ عُتْبَة.

أما بعد:

فإنَّ مُعَاوِيَةَ كَانَ عَبْدًا مِنْ عِبَادِ اللهِ أَكْرَمَهُ اللهُ وَاسْتَخْلَفَهُ وَخَوَّلَهُ وَ مَكَّنَ لَهُ، فَعَاشَ بِقَدَرٍ وَ مَاتَ بِأَجَلٍ، فَرَحِمَهُ الله، فَقَدْ عَاشَ مَحْمُوْدًا وَ مَاتَ بِرًّا تَقِيًّا وَالسَّلاَم.

Dari Yazid pemimpin orang-orang Mukmin kepada al-Walid bin Utbah.

Sesungguhnya Muawiyah adalah salah seorang hamba diantara hamba-hamba Allah, Allah telah memuliakannya dan .. dia hidup dengan taqdir dan wafat dengan ajal yang telah ditentukan, semoga Allah menyayanginya. Sungguh dia telah hidup dengan mulia dan meninggal dalam keadaan baik dan bertakwa.

Di surat lain, Yazid menulis;

أمَّا بَعْدُ:

فَخُذْ حُسَيْنًا وَ عَبْدَ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَ عَبْدَ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ بِالْبَيْعَةِ أَخْذًا شَدِيْدًا لَيْسَتْ فِيْهِ رُخْصَةٌ حَتَّى يُبَايِعُوْا. وَ السَّلاَم.

Ambillah dari Husain, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Zubair bait dengan keras dan jangan berikan alasan (untuk menolaknya) hingga mereka semua berbaiat.

Ketika menerima surat ini, al-Walid mengirimnya kepada Marwan dan setelah membaca isi surat itu, Marwan menyarankan kepada al-Walid dengan mengatakan; “Cepat panggil mereka (yaitu Husain, Ibnu Umar dan Ibnu Zubair) lalu paksa mereka untuk membait Yazid dan jika mereka menolak untuk berbait maka bunuh saja mereka”.

Al-Walid lalu mengirim Amr bin Utsman bin Affan untuk menemui Sayyidina Husain dan Ibnu Zubair. Saat itu mereka berdua sedang berada di dalam masjid. Berkata Amr; Wahai Husain dan Ibnu Zubair kalin berdua dipanggil oleh al-Walid dan penuhilah panggilan pemimpin kalian itu !.

Sayyidina Husain berkata; “Pulanglah engkau lebih dahulu, nanti kami akan memenuhi panggilannya”.

Setalah Amr pergi, Sayyidina Husain berkata kepada Ibnu Zubair; “Menurut firasatku Muawiyah telah meninggal dunia”. Ibnu Zubair menjawab; “Aku juga tidak memiliki firasat lain kecuali sama dengan apa yang engkau rasakan”.

Lalu Sayyidina Husain berangkat untuk menemui al-Walid. Setelah bertemu dan duduk dihadapan al-Walid yang dan saat itu sudah duduk disisinya Marwan.

Al-Walid mengambil surat dari Yazid dan membacakannya; Setelah mendengar surat pertama yang berisikan berita wafatnya Muawiyah, Sayyidina Husain mengatakan; ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, rahimahullah Muawiyah wa addhama lakal ajru‘, “Kita semua milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali, semoga Allah menyayangi Muawiyah dan memberikan kelipatan pahala bagimu“.

Kemudian dibacakan surat kedua ‘yang berisikan tentang perintah untuk membaiat Yazid’. Saat itulah sayyidina Husain menjawab; “Orang yang seperti aku tidak layak untuk memberikan baiat secara diam-diam, kumpulkan masyarakat lalu panggil aku di saat itulah aku berbaiat“. Al-Walid berkata; “Jika demikian halnya, pergilah engkau dengan penuh keselamatan dan datanglah bila masyarakat sudah berkumpul semua !”.

Melihat sikap al-Walid yang lunak ini, Marwan menegurnya dengan keras seraya berkata; Demi Allah, jika engkau biarkan dia pergi tanpa membaiat niscaya akan banyak terjadi pembunuhan antara kamu dengan dia, tahan dia dan paksa agar membaiat bila tidak mau maka bunuhlah dia !. Mendengar perkataan Marwan ini, Sayyidina Husain berkata; Apakah engkau hendak membunuhku wahai Ibnu Zarga ?. lalu dia pergi meninggalkan al-Walid dan kembali ke rumahnya.

Setelah Sayyidina Husain pergi, Marwan berkata kepada al-Walid; “Demi Allah, engkau tidak akan pernah melihatnya kembali“.

Al-Walid menjawab perkataan Marwan ini dengan nada keras;

وَ اللهِ يَا مَرْوَانُ مَا أُحِبُّ أَنَّ لِيَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا وَ أَنِّيْ قَتَلْتُ الْحُسَيْنَ، سُبْحَانَ اللهِ ! أَقْتُلُ حُسَيْنًا أنْ قَالَ لاَ أُبَايِعُ ؟ وَ اللهِ إنِّيْ لأَظُنُّ أَنَّ مَنْ يَقْتُلُ الْحُسَيْنَ يَكُوْنُ خَفِيْفُ الْمِيْزَانِ يَوْمَ القِيَامَةِ.

“Demi Allah, wahai Marwan ! aku tidak menginginkan dunia dan seisinya menjadi milikku sementara aku membunuh Husain. Maha Suci Allah, aku membunuh Husain lantaran dia tidak membaiat ? demi Allah, aku berpendapat barangsiapa yang membunuh Husain akan menjadi ringan timbangannya di hari Kiamat“.

Sementara itu, Abdullah bin Zubair selalu menghindar untuk memenuhi panggilan al-Walid. Secara sembunyi-sembunyi Abdullah dan saudaranya yang bernama Ja’far bin Zubair pergi ke Mekkah dengan mengambil jalan yang tidak biasa di lalui manusia, sehingga saat orang yang dikirim oleh al-Walid untuk menangkap mereka berdua mengalami kegagalan.

Ketika al-Walid disibukkan dengan urusan Abdullah bin Zubair, maka Sayyidina Husain secara diam-diam mengumpulkan keluarga dan kerabatnya. Pada hari Ahad malam tepatnya tanggal dua bulan Rajab tahun enam puluh Hijriah secara sembunyi-sembunyi meninggalkan Madinah dan pergi ke Mekkah satu malam setelah keluarnya Ibnu Zubair.

Semua keluarga Sayyidina Husain ikut serta pergi ke Mekkah kecuali saudaranya yang bernama Muhammad al-Hanafiah, saat itu beliau memberikan nasehat dengan mengatakan; “Wahai saudaraku, sungguh engkau adalah saudaraku termulia yang ada di atas muka bumi ini. Wahai saudaraku, aku menasehati untuk tidak masuk ke suatu negeri tapi menetaplah di wadi-wadi atau padang pasir dan utuslah utusan untuk memantau keadaan di kota dan bila penduduk sudah benar-benar membaiatmu maka keluarlah temui mereka. Jika engkau enggan untuk saranku maka tinggallah di Kota Mekkah”. Sayyidina Husain menjawab; “Terima kasih wahai saudaraku, semoga Allah memberikan balasan yang baik untukmu sungguh  kasihmu sangat tulus dan telah memberikan nasehat yang baik kepadaku“.

Sayyidina Husain dan Abdullah bin Zubair bertemu di Kota Mekkah dan mereka tinggal di kota tersebut, Sayyidina Husain dan keluarganya tinggal di rumah al-Abbas, sedang Ibnu Zubair tinggal di Masjid Haram Mekkah.

Al-Walid mengirim utusan kepada Abdullah bin Umar dan memerintahkan kepadanya untuk segera membaiat Yazid, mendengar perintah ini Ibnu Umar menjawab; Aku akan membaiat Yazid apabila seluruh kaum Muslimin telah membaiatnya dan tidak tersisa kecuali aku.1

Pada tahun yang sama tepat di bulan Ramadhan, Yazid mencopot al-Walid bin Utbah dan menggantikan kedudukannya dengan Amr bin Said bin Ash yang sebelumnya menjadi gubernur Kota Mekkah.

Pada bulan Ramadhan2 Amr bin Said bin Ash yang bersifat sombong itu pindah ke Madinah. Sesampai di Madinah dia merekrut Amr bin Zubair (yaitu saudara Abdullah bin Zubair yang sejak awal sudah terjadi permusuhan diantara mereka berdua) dan menjadikannya sebagai panglima untuk memerangi Abdullah bin Zubair di Kota Mekkah.

Mengetahui niat Amr bin Said mengirim pasukan ke Mekkah untuk memerangi Ibnu Zubair, Abu Syuraih berkata; Wahai Amr ! perkenankan aku membacakan suatu hadits dari Rasulullah yang beliau bacakan saat pembukaan Kota Mekkah dan hadits ini langsung aku dengar dengan telingaku sendiri, setelah mengucapkan hamdalah dan memuji Allah beliau bersabda;

إنَّ مَكَّةَ حَرَّمَهَا الله ُوَ لَمْ يُحَرِّمْهَا النَّاسُ، وَ إنَّهُ لَمْ يَحِلُّ القِتَالَ فِيْهَا لاَحَدٍ كَانَ قَبْلِيْ، وَ لَمْ تَحِلُّ لاَحَدٍ بَعْدِيْ، وَ لَمْ تَحِلُّ لِي إلاَّ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، ثُمَّ قَدْ صَارَتْ حُرْمَتُهَا اليَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالاَمْسِ، فَلْيُبَلِّغُ الَشَّاهِدُ اَلْغَائِبَ.

“Sesungguhnya Kota Mekkah itu yang mengharamkannya adalah Allah dan bukan diharamkan oleh manusi. Sesungguh tidak halal bagi seseorang melakukan peperangan di dalamnya sebelumku, dan juga tidak halal bagi seseorang setelah aku. Dan (Mekkah) tidak halal kecuali sesaat di waktu siang hari kemudian dia menjadi haram (kembali) pada hari ini sebagaimana haramnya diwaktu kemarin. Hendaklah yang menyaksikan menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir“.3

Setelah dibacakan hadits ini, Amr bin Said menjawab; “Wahai Abu Suraih ! sungguh kami lebih mengetahui maksud hadits ini daripada kamu, sungguh wilayah Haram itu tidak melindungi  orang yang melakukan kemaksiatan, pembunuh atau pemberontak“.

Sebagai panglima Amr bin Zubair pertama kali menangkap para pengikut dan pendukukung kakaknya yaitu Abdullah bin Zubair bahkan keluarga terdekatnya juga tidak luput dari penangkapan dan disiksanya agar mereka mencabut dukungannya untuk Abdullah bin Zubair. Diantara mereka yang ditangkap dan disiksa seperti; Mundzir bin Zubair dan anaknya Muhammad bin Mundzir, Abdurrahman bin Aswad, Utsman bin Abdullah, Khubaib bin Abdullah bin Zubair, Muhammad bin Ammar bin Yasir..dan lainnya. Dan banyak juga diantara mereka yang hendak ditangkap melarikan diri ke Mekkah dan bergabung dengan Ibnu Zubair.

Di susunlah strategi untuk menyerang Mekkah dan membebaskan kota tersebut dari pengaruh Ibnu Zubair. Saat musyawarah, Amr bin Said bertanya; Bagaimana dan siapakah yang layak untuk memimpin penyerangan ke wilayah Haram Kota Mekkah  ?. Marwan mengatakan; “Lebih baik kita tidak perlu menyerang Kota Mekkah, karena saya yakin tanpa diserang Ibnu Zubair tidak lama lagi akan meninggal dunia dengan sendirinya“. Berkata Amr bin Zubair; “Biarkan aku yang memimpin pasukan dan aku akan membunuh saudaraku Abdullah bin Zubair walaupun dia bersembunyi di dalam Ka’bah“. Mendengar tekad Amr bin Zubair ini Marwan dan Amr bin Said gembira dan langsung mengirimnya ke Mekkah, pasukan dibagi menjadi dua gelombang yang pertama dipimpin oleh Anis bin Amr al-Aslami membawahi tujuh ratus pasukan dan Amr bin Zubair membawa dua ribu pasukan.

Sesampainya di Dzu Thuwa pasukan berhenti dan mendirikan sholat berjama’ah, saat itu Amr bin Zubair menjadi imam dan Abdullah bin Zubair ikut serta sholat dan beliau menjadi makmum. Setelah sholat, Amr bin Zubair memerintahkan kepada saudaranya itu untuk berbaiat kepada Yazid dan mengingatkan untuk tidak memecah belah persatuan umat terlebih di wilayah Haram. Abdullah bin Zubair tidak menaggapi permintaan saudaranya itu bahkan dia menantang untuk bertemu di Masjid Haram.

Abdullah bin Zubair mengangkat Abdullah bin Shafwan sebagai pemimpin pasukannya untuk melawan pasukan Amr bin Zubair yang dipimpin oleh Anis al-Aslami. Abdullah bin Shafwan  dapat mengalahkan pasukan Anis dan Amr, mereka lari tunggang langgang meninggalkan Kota Mekkah. Sementara Amr lari menyelamatkan diri dengan meminta perlindungan dari saudaranya bernama Ubaidah bin Zubair.

Abdullah bin Zubair mencela saudaranya yang melindungi Amr, beliau berkata; Apakah engkau hendak melindung seseorang yang di pundaknya banyak membawa hak orang lain ?.  Setelah tertangkap Amr di penjara hingga meninggal dunia, dalam riwayat lain; dia dibunuh.

Biografi Sayyidina Husain.

Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Hasyim, Abu Abdillah al-Qurasiy al-Hasyimi. Cucu Rasulullah dari putrinya bernama Fathimah binti Nabi Muhammad.

Dilahirkan pada tanggal lima Sya’ban tahun ke empat Hijriah.

…………………………………………………………..

…………………………………………………………..

Gugurnya Muslim bin Agil bin Abi Thalib Utusan Sayydina Husain.

Setelah mengetahui Sayyidina Husain tidak membaiat Yazid dan melarikan diri ke Kota Mekkah, maka berdatanganlah surat dari Kufah semuanya berisikan permintaan kepada Sayyidina Husain agar bersedia datang ke Irak untuk diambil baiat. Pada tanggal sepuluh bulan Ramadhan datang untuk pertama kali menemui Sayyidina Husain Abdullah bin Sabi’ al-Hamadani dan Abdullah bin Wal, mereka membawa surat dari penduduk Kufah yang berisikan ‘Ucapan syukur dan selamat atas wafatnya Muawiyah‘.

Setelah itu menyusul utusan lain dari Irak untuk menemui Sayyidina Husain seperti; Qais bin Mashar ad-Dhada’i dan Ammarah bin Abdullah as-Saluli yang membawa kurang lebih seratus lima puluh surat.

Kemudian untuk yang kesekian kalinya datang Hani’ bin as-Sabi’I dan Said bin Abdullah al-Hanafi yang membawa surat berisikan; ‘Agar Sayyidina Husain bersegera datang ke Irak, karena penduduk Irak telah siap untuk menjadi pasukan Sayyidina Husain untuk melawan Yazid dan sampai saat ini mereka belum satupun berbait kepada Yazid dan hanya menunggu kedatangan Sayyidina Husain lalu membaiatnya‘.

Sebelum berangkat ke Kufah, Sayyidina Husain mengutus saudaranya yang bernama Muslim bin Agil bin Abu Thalib untuk menyelidiki keadaan penduduk Kufah. Agar selamat dari kejaran pasukan Yazid, Muslim bin Agil pergi dengan membawa dua orang penunjuk jalan.

Karena perjalanan yang sangat jauh dan bukan jalan yang biasa dilalui maka mereka mengalami kesulitan, selain jarak tempuhnya yang cukup jauh juga medannya sangat keras, akhirnya salah seorang penunuk jalannya meninggal dunia karena kehausan, dan di tengah perjalanan sesampainya di wilayah bernama Mudhiq seorang penunjuk jalan lainnya juga wafat karena kelelahan dan sebab dahaga. Tinggallah Muslim bin Agil seorang diri melanjutkan perjalanan ke Kufah.

Sesampainya di Kufah, Muslim bin Agil singgah di rumah al-Mukhtar bin Abu Ubaidillah at-Tsaqafi.

Setelah mengetahui kedatangan utusan Sayyidina Husain, penduduk Kufah berbondong-bondong menemui Muslim bin Agil dan segera memberikan baiat untuk Sayyidina Husain dan berjanji untuk membelanya dengan harta dan jiwanya, saat itu yang berkumpul memberikan baiat kepada Muslim bin Agil sebanyak dua belas ribu orang dan terus bertambah hingga mencapai delapan belas ribu orang.

Melihat antusias masyarakat Kufah ini, akhirnya Muslim bin Agil mengirim surat kepada Sayyidina Husain agar segera berangkat ke Kufah karena seluruh penduduknya benar-benar memberikan baiatnya dengan jumlah yang sangat besar.

Mendapat surat dari Muslim bin Agil ini akhirnya Sayyidina Husain bersiap-siap untuk berangkat ke Kufah.

Setelah gubernur Kufah yang bernama Nukman bin Basyir mendengar kedatangan Muslim bin Agil segera beliau mengumpulkan masyarakat kufah seraya berkata; Wahai penduduk Kufah ! janganlah kalian memecah belah persatuan yang mendengar beliau berkata;

إنِّي لاَ أُقَاتِلُ مَنْ لاَ يُقَاتِلُنِي، وَلاَ أَثِبْ عَلَى مَنْ لاَ يَثِبْ عَلَيَّ، وَلاَ آخِذُكُمْ بِالظَّنَّةِ، وَلَكِنْ وَاللهِ اَّلذِي لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ لَئِنْ فَارَقْتُمْ إمَامَكُمْ وَنَكَثْتُمْ بَيْعَتَهُ لاُقَاتِلَنَّكُمْ مَا دَامَ فِي يَدِيْ مِنْ سَيْفِي قَائِمَتَهُ.

Mendengar perkataan Nukman bin Basyir ini, seseorang yang bernama Abdullah bin Muslim bin Syu’bah al-Hadrami mengatakan; “Sungguh sikap dan prilakumu ini merupakan sikap dari orang-orang yang lemah”.

Tetapi Nukman bin Basyir menjawab;

لاَنْ أَكُوْنَ مِنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي طاَعَةِ اللهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكُوْنَ مِنَ الاَقْوِيَاءِ الاَعِزِّيْنَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ.

“Aku menjadi dari golongan orang lemah dalam keta’atan kepada Allah lebih aku suaki daripada menjadi orang yang kuat dan mulia dalam kemaksiatan kepada Allah“

Sikap Nukman yang penuh toleran ini membuat gusar Yazid, atas dasar usulan dan saran dari Sarjun maka dengan segera Yazid mengganti kedudukan Nukman dengan Ubaidillah bin Ziyad yang saat itu dia menjadi gubernur di Kota Basrah, dengan demikian Ubaidillah memegang kekuasaan dua Kota besar yaitu Kufah dan Basrah. Yazid mengirim surat dengan Ubaidillah yang berisikan:

إذَا قَدِمْتَ الْكُوْفَةَ فَاطْلُبْ مُسْلِم بْنِ عَقِيْل فإنْ قَدِرْتَ عَلَيْهِ فَاقْتُلْهُ أَوْ اِنْفِه

“Apabila engkau memasuki Kota Kufah maka tangkaplah Muslim bin Agil, jika engkau mampu maka bunuhlah dia atau asingkan dia“

Sebelum meninggalkan Kota Basrah, Ubaidillah berpidato dihadapan penduduk Basrah dengan mengatakan;

Amma ba’du. Wahai penduduk Basarh ! khalifah telah mengangkatku sebagai gubernur Kufah dan esok kami akan berangkat meninggalkan Basrah dan aku telah mengangkat Utsman bin Ziyad bin Abi Sufyan sebagai wakilku di kota ini, janganlah kalian berpecah-belah, demi Allah yang tidak ada Tuhan kecuali dia seandainya sampai padaku ada salah seorang diantara kalian yang berbuat ulah pasti aku akan membunuhnya hingga urusan kota ini kembali normal, demi Allah akan tidak akan pernah mentolerir para pembelot.

Dikawal dengan tujuh belas pasukan berkuda, Ubaidillah dan dan Muslim bin Amr al-Bahili segera berangkat ke Kufah menutupi wajahnya dengan imamah berwarna hitam. Saat memasuki Kufah dia tidak melewati kerumunan orang kecuali mengucapkan ‘As-Salamu Alaikum‘. Saat itu orang-orang mengira yang datang itu adalah Sayyidina Husain oleh karenanya mereka menjawab dengan penuh penghormatan; ‘Wa Alaikum Salam, Marhaban bi Ibni Rasulillah‘ (dan bagi anda Salam, selamat datang wahai putra Rasulullah).

Kaum Muslimin berbondong-bondong mengikuti Ubaidillah yang dikira sebagai Sayyidina Husain. Saat itulah salah seorang pengawal Ubaidillah yang bernama Muslim bin Amr berkata; Menyingkirlah kalian semua ! karena yang ada diantara kalian saat ini adalah Ubaidillah bin Ziyad“.

Ketika mengetahui keadaan sebenarnya, penduduk Kufah yang hadir saat itu merasa kecewa, sedih dan takut.

Ubaidillah langsung menuju istana Kufah dan memerintahkan kepada seluruh penduduk Kufah untuk berkumpul, setelah membaca Hamdalah dan memuji Allah dia berkata; “Sungguh Amirul-Mukminin telah mengangkat aku untuk mengurusi segala urusan kalian, dan memerintahkan kepadaku untuk menolong yang terdzalimi dan membantu orang yang miskin diantara kalian, selalu berbuat baik kepada mereka yang patuh dan ta’at kepada pemerintah serta bersikap tegas atas mereka yang membangkang. Sungguh aku hanya melaksanakan tugas terhadap kalian”.

Kemudian Ubaidillah yang lebih dikenal dengan panggilannya Ibnu Ziyad itu memerintahkan kepada budak Abu Rahm untuk menyelidiki keadaan Kufah dan mencari Muslim bin Agil dengan berpura-pura menjadi salah satu pendukungnya yang berasal dari Kota Hims yang hendak membaiat Sayyidina Husain, lalu Ubaidillah memberikan bekal kepadanya tiga ribu dirham.

Setelah bertanya-tanya akhirnya budak Abu Rahm dapat bertemu dengan Muslim bin Agil yang saat itu berada di rumah Ummu Hani’. Muslim bin Agil dan para pengikutnya menerima dengan baik ikut bergabungnya budak Abu Rahm tersebut sebab selain dengan bersumpah dengan Nama Allah juga memberikan sumbangan dengan jumlah besar kepada Abu Tsumamah al-Amiri yang saat itu menjabat sebagai bendaharawan Muslim bin Agil, uang itu ia berikan sebagai simpatiknya atas apa yang dilakukan oleh Muslim bin Agil. Dalam waktu yang singkat, budak Abu Rahm ini sudah menjadi salah satu tokoh di kumpulan Muslim bin Agil, oleh karenanya dalam beberapa hari saja dia sudah dapat mengetahui siapa, dimana dan keberadaan Muslim bin Agil serta para pengikutnya.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, akhirnya budak Abu Rahm itu kembali ke istana dan melaporkan apa yang diketahui tentang gerakan Muslim bin Agil.

Ketika Syarik bin A’war salah satu tokoh Kufah mengetahui niat Ubaidillah yang hendak mengunjungi rumahnya. Dia segera mengirim utusan untuk menemui Muslim bin Agil agar datang ke rumahnya dan mengatur siasat untuk membunuh Ubaidillah saat dia lengah. Akhirnya Muslim bin Agil-pun datang ke rumah Syarik dan bersembunyi di salah satu sudut rumah.

Ketika Ubaidillah datang ke rumah Syarik bin al-A’war dan mereka berbicara panjang lebar, saat itu Syarik sudah memberikan beberapa kali isyarat kepada Muslim bin Agil agar segera bergerak untuk membunuh Ubaidillah. Namun walaupun telah tiga kali diberikan isyarat tetap saja Muslim bin Agil tidak melakukannya. Salah seorang pengawal Ubaidillah yang bernama Mihran merasa curiga dengan sikap Syarik yang beberapa kali bersikap sedikit aneh, akhirnya dia membisikkan kepada Ubaidillah; Wahai tuanku, sungguh kaummu hendak membunuhmu di tempat ini ! Mendengar kecurigaan penasehatnya ini, langsung Ubaidillah segera pergi meninggalkan rumah Syarik, seraya berkata; “Celakalah kaumku, mengapa mereka berniat hendak membunuhku ? bukankah aku sudah bersikap lemah-lembut kepada mereka ?”.

Setelah Ubaidillah pergi, Syarik bertanya kepada Muslim bin Agil;

مَا مَنَعَكَ أَنْ تَخْرُجَ فَتَقْتُلُهُ ؟ قَالَ: حَدِيْثٌ بَلَغَنِيْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ أنَّهُ قَالَ: الايْمَانُ ضِدُّ الفَتْكِ، لاَ يَفْتَكُ مُؤْمِنٌ “

Apa yang menyebabkan kamu tidak keluar dari tempat persembunyianmu untuk membunuhnya ? berkata Muslim; Sebuah hadits yang sampai kepadaku dari Rasulullah, sesungguhnya beliau bersabda; Keimanan itu….’. Dan juga aku tidak suka untuk membunuhnya di dalam rumah kamu. Berkata Syarik; Sungguh, jika engkau membunuhnya niscaya kamu dapat duduk di dalam istana dan tidak ada yang mengusikmu dalam urusan Basrah. Tetapi Muslim menjawab; “Jika aku membunuhnya pastilah aku termasuk orang yang melakukan kedzaliman dan berlaku fajir“. Beberapa hari (dalam riwayat tiga hari) setelah itu Syarik bin al-A’war meninggal dunia.

Ibnu Ziyad memerintahkan kepada seluruh penduduk Kufah untuk membaiat Yazid dan selalu mematuhi pemerintah. Walaupun sudah beberapa hari Ibnu Ziyad memasuki Kufah tetapi dia belum juga melihat Hani’ bin Urwah menemuinya tidak seperti masyarakat lainnya, padahal Hani’ adalah seorang tokoh di Kufah. akhirnya Ibnu Ziyad memanggil Hani’, tetapi selalu saja panggilannya itu tidak dipenuhi dengan alasan sakit. Setelah beberapa kali dipanggil, akhirnya Ibnu Ziyad dengan paksa memanggil Hani’ bin Urwah.

Setelah berada dihadapannya, Ibnu Ziyad berkata;

يَا هَانِئُ أَيْنَ مُسْلِمُ بْنِ عَقِيْل ؟ قاَلَ: لاَ أَدْرِيْ، فَقاَمَ ذَلِكَ الْمَوْلَى الَتَّمِيْمِيْ اَلَّذِيْ دَخَلَ دَارَ هَانِئ فِي صُوْرَةِ قَاصِدٍ مِنْ حِمْصٍ فَبَايَعَ فِي دَارِهِ وَ دَفَعَ الدَّرَاهِمَ

بِحَضْرَةِ هَانِئ إِلَى مُسْلِمٍ، فَقَالَ: أَتَعْرِفُ هَذَا ؟ قَالَ: نَعَمْ ! فَقَالَ: أَصْلَحَ الله ُالاَمِيْرَ، وَ اللهِ مَا دَعَوْتُهُ إِلَى مَنْزِلِي، وَ لَكِنَّهُ جَاءَ فَطَرَحَ نَفْسَهُ عَلَيَّ، فَقَالَ عُبَيْدُ الله: فَأْتِنِيْ بِهِ، فَقَالَ: وَ اللهِ لَوْ كَانَ تَحْتَ قَدَمِيْ مَا رَفَعْتُهَا عَنْهُ، فَقَالَ: أُدْنُوْهُ مِنِّيْ، فَأْدَنُوْهُ فَضَرَبَهُ بِحِرْبَةٍ عَلىَ وَجْهِهِ فَشَجَّهُ عَلَى حَاجِبِهِ وَكَسَرَ أَنْفَهُ، وَ قَالَ عُبَيْدُاللهِ: قَدْ أَحَلَّ الله ُلِي دَمَكَ، لاَنَّكَ حَرُوْرِيٌّ، ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَحَبَسَهُ فِي جَانِبِ الدَّارِ.

“Wahai Hani, dimana keberadaan Husain ?” beliau berkata; “Aku tidak tahu”. Saat itu berdirilah budak Abu Rahm yang telah masuk ke rumah Hani’ dan berpura-pura menjadi orang yang datang dari Kota Hims dan membaiat di rumahnya serta menyumbang bebera dirham kepada Muslim yang saat itu disaksikan oleh Hani’. (Ibnu Ziyad) berkata; “Tahukah kamu, siapa ini ?” (Hani’) menjawab; “Iya, aku mengetahuinya“, lalu dia berkata; “Semoga Allah memberi kebaikan kepada pemimpin, demi Allah aku tidak memanggilnya untuk datang ke rumahku tetapi beliau datang dan memasrahkan dirinya padaku“. Berkata Ubaidillah; “Jika demikian, maka berikanlah dia padaku !”, Hani menjawab; “Demi Allah, seandainya dia berada di bawah kakiku niscaya aku tidak akan mengangkatnya“, Ubaidillah berkata; Dekatkan dia padaku ! lalu wajah Hani dipukul maka terlukalah wajahnya bahkan hidungnya patah. Lalu Ubaidillah berkata; “Sungguh Allah telah menghalalkan bagiku darahmu, sebab engkau adalah seorang haruriy“. Kemudian memerintahkan untuk memenjarakan Hani di sebelah istana.

Karena Hani bin Urwah tidak kunjung pulang dan dikabarkan meninggal dunia, maka datanglah suku Hani yaitu dari Bani Mudhij dengan Gerang yang dipimpin oleh Amr bin Hajjaj, mereka berdiri di depan pintu istana dan berniat untuk menuntut balas atas kematian Hani bin Urwah. Melihat keadaan genting seperti ini, maka Ibnu Ziyad memerintahkan kepada Syuraikh untuk keluar istana dan menenangkan Bani Mudhij.

Berkata Syuraikh; “Sungguh Ibnu Ziyad tidak memenjarakan terlebih membunuh Hani bin Urwah tetapi beliau hanya menahan sementara untuk dimintai keterangan saja dan nanti dalam waktu dekat dilepaskan, pulanglah kalian semua“.

Mendengar keterangan dari Syuraikh ini, akhirnya Bani Mudhij tenang dan mereka membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing.

Melihat keadaan yang genting seperti ini, maka Muslim bin Agil mengumpulkan penduduk Kufah yang telah berbaiat kepada Sayyidina Husain. Maka terkumpullah empat ribu pasukan.

Pasukan dibagi menjadi tiga; Mukhtar bin Abi Ubaid membawa bendera hijau dan Abdullah bin Naufal bin Harits membawa bendera merah kedua pasukan ini berjalan dari arah kanan dan kiri, sedang Muslim bin Agil memimpin pasukan dengan mendatangi istana dari arah depan.

Setelah mengetahui kedatang Muslim bin Agil dengan pasukan yang cukup besar, akhirnya Ibnu Ziyad memerintahkan untuk menutup rapat pintu istananya, sehingga pasukan Muslim bin Agil tidak dapat melakukan penyerangan ke istana.

Saat itulah, para kepala suku yang memang dekat dengan Ibnu Ziyad dan berada di dalam istana mereka menghimbau kepada sukunya masing-masing untuk tidak ikut serta dalam pasukan Muslim bin Agil dengan memberikan ancaman keras bagi yang tidak mematuhinya dan imbalan besar bagi mereka yang menta’atinya.

Dalam waktu yang lain, Ibnu Ziyad mengirim beberapa kepala suku yang sudah dibayar untuk membujuk para keluarga agar menarik mundur keluarganya yang bergabung dengan pasukan Muslim bin Agil dengan cara memberikan imbalan besar jika membawa kembali pulang keluarganya dan mengancam dengan siksa yang pedih atau membunuh bagi mereka yang membangkang.

Akhirnya, para wanita mendatangi anak dan suami serta saudaranya yang ikut bergabung dengan Muslim bin agil dan mengajak mereka untuk kembali pulang ke rumahnya serta meninggalkan pasukan tersebut, mereka mengatakan; Wahai anakku, wahai suamiku, wahai saudaraku ! Jika esok hari bala bantuan datang dari Kota Syam apa yang dapat kalian lakukan dengan Muslim bin Agil ?, Selamatkan dirimu dan kembalilah pulang hidup damai dengan keluargamu !.

Mendengar ajakan dari istri, ibu dan saudaranya ini akhirnya banyak dari orang-orang Kufah itu keluar dari barisan dan meninggalkan Muslim bin Agil. Dan tidak tersisa dari mereka kecuali hanya lima ratus orang, tidak berapa lama berkurang menjadi tiga ratus orang dan akhirnya tidak tersisa melainkan hanya tiga puluh orang.

Saat datang waktu Magrib, seluruh pasukannya pergi dengan alasan hendak mendirikan sholat magrib dan mereka tidak kembali lagi, akhirnya tidak tersisa satu orangpun tinggallah Muslim bin Agil berdiri seorang diri tidak ada yang menemani.

Saat masuk waktu malam, Muslim bin Agil meniggalkan istana tetapi beliau tidak ada tempat kembali untuk beristirahat sebab seluruh penduduk Kufah mengunci rapat-rapat rumah mereka dan tidak membukanya untuk Muslim bin Agil walaupun dia telah mengetuk dan memohon kepada mereka, entah karena takut kepada Ibnu Ziyad atau sebab mendapat bayaran ?!. tinggallah Muslim bin Agil lari kesana-kemari tidak tentu arah untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran tentara Ibnu Ziyad.

Dalam pelariannya itu, Muslim mendapati sebuah rumah yang terbuka pintunya langsung saja dia mendekati rumah tersebut. Didapatinya seorang ibu bernama Thau’ah mantu As’at bin Qais yang sedang berdiri di depan pintu menunggu kedatangan putranya bernama Bilal bin Usaid yang sedang pergi.

Berkata Muslim bin Agil; Wahai Ibu, tolong berikan kepadaku seteguk air sungguh aku sangat haus !, Thau’ah masuk ke dalam rumahnya dan kembali dengan membawa segelas air lalu dia masuk ke rumahnya, tidak berapa lama saat dia keluar ternyata didapati Muslim masih duduk di depan pintunya.

Thau’ah; Mengapa engkau tidak segera pergi dari depan rumahku! bukankah sudah aku berikan minum kepadamu ?

Muslim; Wahai ibu, sungguh aku tidak memiliki tampat tinggal atau keluarga di negeri ini ! dan jika engkau memberikan izin kepadaku untuk tinggal satu hari ini saja pastilah engkau akan mendapatkan pahala dan kami akan memberikan balasan nantinya kepadamu.

Thau’ah; Siapakah engkau sebenarnya ?

Muslim; Aku Muslim bin Agil bin Abi Thalib, aku telah ditipu oleh kaumku mereka meninggalkanku.

Thau’ah; Engkau Muslim bin Agil utusan Sayyidina Husain ?

Muslim; Betul.

Thau’ah mengajak Muslim bin Agil memasuki rumah yang berada di sebelah rumahnya dan memberikan makan malam kepadanya yang saat itu Muslim memang belum sempat menyentuh makanan sejak pagi.

Tidak berapa lama kemudian, datanglah Bilal bin Usaid putra yang ditunggu oleh Thau’ah. Bilal bin Usaid merasa curiga melihat ibunya yang beberapa kali membawa makanan ke rumah kosong itu, akhirnya dia bertanya kepada ibunya; Wahai ibuku, siapakah orang yang berada di rumah itu ?, Thau’ah mengatakan; Jangan engkau beritahukan kepada seorangpun bila Muslim bin Agil bersembunyi di rumah kita.

Sementara Ibnu Ziyad setelah mendirikan sholat Isya, beliau berpidato di hadapan penduduk Kufah untuk segera memberitahukan keberadaan Muslim bin Agil, dan barangsiapa yang mengetahui keberadaannya lalu dia tidak memberitahukan terlebih menyembunyikannya maka akan dibunuh dan sebaliknya siapa saja yang dapat memberitahukan keberadaannya akan mendapat imbalan yang sangat besar.

Di waktu pagi, Bilal bin Usaid dengan sembunyi-sembunyi memberitahukan keberadaan Muslim bin Agil yang berada di rumahnya kepada Abdurrahman bin Muhammad bin As’ats. Mendengar berita ini, langsung saja Abdurrahman memberitahukan keberadaan Muslim kepada ayahnya yang memang memiliki hubungan sangat dekat dengan Ibnu Ziyad.

Mendapat info ini, segera saja Ibnu Ziyad mengirim tujuh puluh pasukan berkuda yang dipimpin oleh Amr bin Harits al-Makhzumi untuk mendatangi tempat persembunyian Muslim bin Agil, ikut juga bersama mereka Abdurrahman bin Muhammad bin As’ats.

Saat tersadar, Muslim bin Agil sudah terkepung di dalam rumah. Muslim diperintah untuk keluar dari rumah dan menyerahkan dirinya, tetapi beliau tidak menuruti perintah itu dan tetap di dalam rumah. Setelah tiga kali diserukan tetap juga tidak keluar, akhirnya mereka menghujani rumah itu dengan batu dan melempari dengan daun-daun dan kayu yang dibakar api. Karena terdesak, akhirnya Muslim keluar dengan pedang terhunus di tangannya dan mengadakan perlawanan kepada mereka yang hendak menangkap dirinya.

Setelah beberapa lama, akhirnya Abdurrahman bin Muhammad berjanji untuk memberikan jaminan keamanan kepada Muslim bila dia menyerahkan diri tanpa perlawanan. Karena terbujuk dengan janji tersebut akhirnya Muslin bin Agil menyerahkan dirinya, tetapi saat ditangkap langsung pedangnya diambil kemudian beliau kedua tangannya diikat.

Ketika menyadari dirinya sudah tertangkap dan terikat tanpa daya Muslim bin Agil sadar bila dirinya sebentar lagi akan dibunuh oleh Ibnu Ziyad dan saat itulah beliau bersedih dan menangis sambil mengatakan; ‘Innal lillahi wa inna ilaihi rajiun‘. Melihat kesedihan dan tangisan Muslim ini seseorang mengatakan; Seorang pejuang dan pemberani seperti anda ini tidak layak untuk mengeluarkan air mata dalam keadaan seperti ini.

Muslim bin Agil menjawab;

أمَا وَ اللهِ لَسْتُ أَبْكِيْ عَلىَ نَفْسِيْ، وَ لَكِنْ أَبْكِيْ عَلىَ الْحُسَيْنَ، وَ آلِ الْحُسَيْنَ، إنَّهُ قَدْ خَرَجَ إِلَيْكُمْ اَلْيَوْمَ أَوْ أَمْسِ مِنْ مَكَّةَ

“Demi Allah, aku tidak menangisi diriku akan tetapi aku menangisi Sayyidina Husain dan keluarga Sayyidina Husain, beliau telah keluar dari Kota Mekkah menuju tempat kalian pada hari ini atau esok hari”

Lalu dia menoleh ke arah Muhammad bin Al-Ats dan berkata; Jika engkau bisa menemui Sayyidina Husain dan menyampaikan pesan dariku kepadanya untuk kembali dan mengurungkan niatnya maka kerjakanlah.

Muhammad bin Al-Ats segera segera berangkat menemui Sayyidina Husain dan beliau sempat bertemu dengan Sayyidina Husain dengan jarak empat hari perjalanan seelum tiba Kufah. lalu Muhammad menyampaikan pesan dari Muslim bin Agil tersebut, tetapi pesan itu tidak diacuhkan oleh Sayyidina Husain.

Ketika Muslim bin Agil tiba di depan pintu istana yang saat itu sudah ditunggu penduduk Kufah dan para algojo Ibnu Ziyad juga beberapa anak dari para sahabat.

Dalam keadaan lemah tanpa tenaga dan rasa haus yang mencekik leher, Muslim bin Agil disiksa oleh para algojo Ibnu Ziyad hingga seluruh wajah dan bajunya dipenuhi dengan darah, sementara penduduk Kufah hanya dapat melihat dan tidak berbuat apapun. Saat Muslim bin Agil meminta untuk diberikan air untuk menghilangkan dahaganya salah seorang tentara Ibnu Ziyad mengatakan;

وَ اللهِ لاَ تَشْرَبْ مِنْهَا حَتَّى تَشْرَبَ مِنَ الْحَمِيْمِ، فَقَالَ لَهُ: وَيْلَكَ يَا اِبْنَ نَاهِلَةْ، أَنْتَ أَوْلَى بِالْحَمِيْمِ وَ الْخُلُوْدِ فِي نَارِ الْجَحِيْمِ مِنِّيْ.

“Demi Allah, engkau tidak akan minum dari air ini sehingga meminum lebih dahulu dari hamin (air dari neraka), Muslim bin Agil berkata kepadanya; Celakalah engkau wahai Ibnu Nahilah, engkaulah yang lebih berhak untuk meminum dari air hamim dan kekal di dalam neraka Jahim daripada aku”

Kemudian Muslim duduk bersandar ke dinding karena kelelahan dan kehausan. Lalu datanglah Ammarah bin Uqbah bin Abu Muith membawakan segelas air tetapi Muslim mengalami kesulitan untuk meminumnya karena saat mendekatkan mulutnya ke bejana air itu berubah menjadi merah karena tercampur dengan darah namun karena rasa haus yang dirasaklan akhirnya air yang sudah bercampur dengan darah itupun diminumnya, dan saat diangkat mulutnya terlihat dua gigi gerahamnya copot dan masuk ke dalam bejana tersebut, lalu beliau berkata;

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ لَقَدْ كَانَ بَقِيَ لِي مِنَ الرِّزْقِ الْمَقْسُوْمِ شُرْبَةَ مَاءٍ

“Segala puji bagi Allah, sungguh masih tersisa bagiku rizki yang dibagikan berupa seteguk air”

Kemudian Muslim ditarik ke dalam istana untuk menemui Ibnu Ziyad. Saat memasuki istana dan bertemu dengan Ibnu Ziyad beliau tidak mengucapkan salam kepada Ibnu Ziyad. Lalu salah seorang menegurnya; “Mengapa engkau tidak memberikan salam kepada gubernur ?”

لاَ ! إنْ كَانَ يُرِيْدُ قَتْلِيْ فَلاَ حَاجَةَ لِي بِالسَّلاَمِ عَلَيْهِ، وَ إنْ لَمْ يُرِدْ قَتْلِيْ فَسَأُسَلِّمُ عَلَيْهِ كَثِيْرًا

“Tidak, jika dia hendak membunuhku maka aku tidak perlu memberikan salam kepadanya, tetapi jika dia tidak hendak membunuhku maka aku akan mengucapkan berkali-kali salam kepadanya”

Ibnu Ziyad bertanya kepadanya; Wahai Muslim!, mengapa engkau datang ke Kufah ini hanya untuk memecah belah persatuan dan membuat pertumpahan darah diantara mereka ?.

Muslim bin Agil menjawab; “Demi Allah, aku tidak datang untuk itu tetapi aku datang karena penduduk Kufah menganggap ayahmu telah membunuh orang-orang terbaik mereka dan bersikap otoriter layaknya raja dan kaisar, maka kami mendatangi mereka dengan membawa keadilan untuk kembali pada hokum al-QUr’an“.

Ibnu Ziyad; Engkau dan dia tidak ada bedanya, mengapa engkau sendiri suka meminum minuman keras saat di Kota Madinah ?

Muslim; Aku minum Khamr ?, Demi Tuhan, Allah mengetahui engkau adalah seorang pendusta dan mengatakan tanpa diiringi dengan ilmu. Sungguh engkau lebih berhak untuk minum Khamr daripada aku. Sungguh aku tidak seperti yang engkau sebutkan, bukankah orang yang bersifat ‘lagha‘ yaitu dengan menumpahkan darah kaum muslimin hanya berdasarkan ‘marah’ dan sangkaan saja, akan lebih mudah untuk meminum minuman keras.

Ibnu Ziyad; Wahai orang fasik ! bukankah engkau berangan-angan dengan apa yang telah dihalangi oleh Allah untuk memperolehnya, dan engkau tidak dapat melihat orang yang berhak memangkunya ?

Muslim; Siapakah itu ?

Ibnu Ziyad; Amirul Mukminin Yazid bin Muawiyah

Muslim; Alhamdulillah, kami ridha kepada Allah dengan segala keadaan dan kami ridha kepada Allah dengan hukum antara kami dan kalian.

Ibnu Ziyad; Seakan-akan engkau memiliki ‘suatu sangkaan’.

Muslim; Tidak, ini bukan hanya suatu sangkaan tetapi merupakan sebuah keyakinan.

Ibnu Ziyad; Allah akan membunuhku jika aku tidak membunuhmu, membunuh dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh seorang manusia-pun.

Muslim; Sungguh engkau adalah orang yang lebih berhak untuk melakukan ‘kebid’ahan‘ dalam ajaran Islam, bukankah engkau selalu tidak pernah melewatkan untuk membunuh dengan cara yang buruk sungguh catatan perjalananmu sangat buruk.4

Ibnu Ziyad; Sungguh aku akan membunuh !

Muslim; Iya, aku sudah siap. Tolong berikan sedikit waktu kepadaku untuk memberikan wasiat kepada kaumku !

Ibnu Ziyad; Berikanlah wasiatmu.

Lalu Muslim bin Agil melihat satu persatu orang-orang yang berada di sekitarnya diantaranya Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqas, kemudian beliau berkata; “Wahai Umar ! sungguh antara engkau dan aku ada ikatan keluarga maka aku memiliki hajat kepadamu yang bersifat rahasia, maka marilah kita berbicara empat mata di salah satu sudut istanan“. Setalah mendapatkan izin dari Ibnu Ziyad, Umar berdiri dan mendekati Muslim lalu beliau secara perkahan berkata;

إنَّ عَلِيَّ دَيْناً فِي الْكُوْفَةَ سَبْعُمِائَةَ دِرْهَمٍ فَاقْضِهَا عَنِّي، وَ اسْتَوْهَبْ جِثَّتِي مِنْ ابْنِ زِياَد فَوَارِهَا، وَ ابْعَثْ إِلَى الْحُسَيْنَ، فَإِنِّيْ كُنْتُ قَدْ كَتَبْتُ إِلَيْهِ أنَّ النَّاسَ مَعَهَ، وَ لاَ أَرَاهُ إلاَّ مُقْبِلاً.

“Sesungguhnya aku memiliki hutang di Kota Kufah sebanyak tujuh ratus dirham maka tolong lunasi hutang itu untukku, dan ambil jasadku dari Ibnu Ziyad dan kuburkan, dan berangkat (atau utuslah utusan) untuk menemui Sayyidina Husain sungguh aku telah menulis surat kepadanya bahwa ‘penduduk Kufah bersama dirinya’ dan aku tidak melihat dia kecuali sedang menuju ke Kufah“

Umar bin Sa’ad memberitahukan wasiat Muslim bin Agil tersebut kepada Ibnu Ziyad, dan Ibnu Ziyad mengizinkan kepada Umar untuk melakukan semua wasiat dan pesan Muslim bin Agil tersebut sambil berkata; “Sedang masalah Husain, jika dia tidak menginginkan kami maka kami tidak menginginkannya tetapi jika menginginkan kami maka kami tidak akan melepaskan dia“.

Kemudian Ibnu Ziyad memerintahkan untuk membawa Muslim bin Agil menaiki istana, sedang Muslim bin Agil sendiri tidak henti-hentinya mengucapkan tahlil, tahmid, tasbih istighfar dan sholawat. Sesampainya di puncak istana kepala Muslim bin Agil dipenggal dan yang memenggalnya Bukair bin Hamran, kemudian kepala dan jasadnya yang sudah terpisah itu dilemparkan dari puncak istana. Muslim bin Agil masuk ke Kufah pada hari Selasa tanggal delapan Dzulhijjah dan wafat pada hari Rabu tanggal Sembilan Dzulhijjah tahun enam puluh Hijriah.

Setelah itu, Ibnu Ziyad memerintahkan untuk memenggal kepadala Hani’ bin Urwah at-Tsaqafi di tengah keramaian yaitu di pasar kambing lalu melemparkan jasadnya. Kemudian Ibnu Ziyad juga membunuh beberapa orang yang diduga menjadi simpatisan atau pendukung Muslin bin Agil.

Ibnu Ziyad mengirim kepada Muslim bin Agil dan Hani bin Urwah At-Tsaqafi kepada Yazid sambil mengirim surat dan menceritakan latar belakang kejadiannya.

Keluarnya Sayyidina Husain dari Kota Mekkah.

Sayyidina Husain keluar dari Kota Madinah pada hari Minggu bulan dua puluh tujuh Rajab tahun enam puluh Hijriah dan memasuki Kota Mekkah pada malam Jum’at tanggal tiga Sya’ban, dan sejak itu beliau tinggal di Kota Mekkah hingga bulan Dzulqa’dah. Tepatnya pada hari Selasa tanggal delapan DzulQa’dah (Hari Tarwiyah).5

Banyaknya surat yang datang dari penduduk Kufah ditambah kiriman surat dari Muslim bin Agil membuat Sayydina Husain bertekad untuk keluar meninggalkan Kota Mekkah menuju Kufah. isi surat Muslim bin Agil;

أمَّا بَعْدُ فَإِنَّ الرَّائِدَ لاَ يَكْذِبُ أَهْلُه، وَإنَّ جَمِيْعَ أَهْلِ الْكُوْفَةَ مَعَكَ، فَأَقْبِلْ حِيْنَ تَقْرَأُ كِتَابِيْ هَذَا وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ.

“Sesungguhnya …tidak berdusta penduduknya, dan seluruh penduduk Kufah bersama kamu, datanglah saat engkau membaca suratku ini. Wassalam”

Sayyidina Husain keluar dari Kota Mekkah tepat pada hari Tarwiyah satu hari sebelum terbunuhnya Muslim bin Agil. Dan Muslim bin Agil bin Abi Thalib terbunuh pada hari Arafah.

Mengetahui tekad Sayyidina Husain yang hendak menuju ke Kufah banyak dari para sahabat dan kaum Muslimin lainnya yang melarang beliau.

Berkata Ibnu Abbas; Wahai Saudaraku, aku mendengar engkau hendak berangkat ke Kufah, tolong jelaskan apa rencanamu ? Berkata Sayydina Husain; Aku telah kumpulkan keluargaku untuk memenuhi undangan penduduk Kufah. Berkata Ibnu Abbas; Janganlah engkau keluar, sehingga penduduk Kufah menguasai wilayahnya dan menurunkan pemimpinnya, bila tidak mereka akan mendatangkan kepadamu fitnah dan pembunuhan. Sungguh kepergian kamu tidak aman. Sayyidina Husain menjawab; Demi Allah, aku terbunuh di tempat ini dan itu lebih aku sukai daripada terbunuh di Kota Mekkah, nanti aku akan ber-isitikharah dan apa kita lihat apa yang akan terjadi nanti.

Ibnu Zubair mendatangi Sayyidina Husai; Apa yang hendak engkau lakukan wahai Sayyidina Husain ? Berkata Sayyidina Husain; Aku akan mendatangi Kufah memenuhi permintaan pendukungku di Kufah dan aku akan ber-istikharah. Ibnu Zubair berkata; Demi Allah, seandainya aku memiliki pendukung seperti kamu pasti tidak akan aku pernah sia-siakan. Ketika Ibnu Zubair pergi meninggalkan Sayyidina Husain, beliau berkata; Sungguh Ibnu Zubair mengetahui keadaanku sebenarnya, tetapi dia menginginkan aku keluar dari Mekkah agar aku jauh dari kota ini.

Dalam riwayat lain, Ibnu Zubair mengatakan kepada Sayyidina Husain;

أَيْنَ تَذْهَبْ ؟ إِلَى قَوْمٍ قَتَلُوْا أَبَاكَ وَطَعَنُوْا أخَاكَ ؟

“Apakah engkau hendak pergi ? ke satu kaum yang telah membunuh ayahmu dan mencela saudaramu ?”.

Tetapi Sayyidina Husain menjawab; Demi Allah, aku terbunuh di tempat tertentu lebih aku sukai daripada terbunuh di wilayah Haram.6

Ke-esokan harinya, Ketika masuk waktu pagi Ibnu Abbas datang lagi menemui Sayyidina Husain dan berkata; Wahai anak pamanku, aku sudah berusaha untuk sabar tetapi tidak bisa. Sungguh aku merasa takut atas kehancuranmu pada masalah ini, sungguh penduduk Kufah itu adalah kaum yang mudah berkhianat maka janganlah engkau menjadi orang yang terperdaya oleh mereka. Tetaplah tinggal-lah di negeri ini hingga penduduk Kufah menyingkirkan musuh mereka lalu datanglah kepada mereka atau pergilah ke Kota Yaman karena di negeri itu banyak tempat yang dapat dijadikan sebagai benteng atau lembah sehingga sulit dicari terlebih di Kota itu banyak orang-orang yang mencintai ayahmu. Menjauhlah dari keramaian dan tulis surat serta utusan untuk menyampaikan apa keinginanmu, pasti engkau akan mendapatkan apa yang menjadi cita-citamu.

Sayyidina Husain berkata;

يَا بْنَ عَمِّ ! وَ اللهِ إِنِّيْ لاَعْلَمُ أنَّكَ نَاصِحٌ شَفِيْقٌ، وَ لَكِنِّيْ قَدْ عَزَمْتُ الْمَسِيْر.

“Wahai anak pamanku, Sungguh aku mengetahui engkau adalah seorang penasehat yang penuh kasih, akan tetapi aku telah bertekad untuk mengadakan perjalanan“

Berkata Ibnu Abbas;

فَإِنْ كُنْتَ وَ لاَبُدَّ سَائِرًا فَلاَ تَسِرْ بِأَوْلاَدِكَ وَنِسَائِكَ، فَوَ اللهِ إنِّي لَخَائِفٌ أَنْ تُقْتَلُ كَمَا قُتِلَ عُثْمَانُ وَ نِسَاؤُهُ وَ وَلَدُهُ يَنْظُرُوْنَ إِلَيْهِ.

“Jika engkau harus pergi juga, maka janganlah engkau pergi bersama dengan anak-anak dan istrimu, demi Allah sungguh aku takut engkau akan dibunuh sebagaimana dibunuhnya Utsman bin Affan sedang istri dan anaknya menyaksikannya“.

Berkata Abu Said al-Khudri;

يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ ! إنِّيْ لَكُمْ نَاصِحٌ، وَ إنِّي عَلَيْكُمْ مُشْفِقٌ، وَ قَدْ بَلَغَنِي أَنَّهُ قَدْ كَاتِبُكَ قَوْمٌ مِنْ شِيْعَتِكُمْ بِالْكُوْفَةِ يَدْعُوْنَكَ إِلَى الْخُرُوْجِ إِلَيْهِمْ، فَلاَ تَخْرُجْ إِلَيْهِمْ، فَإنِّي سَمِعْتُ أَبَاكَ يَقُوْلُ بِالْكُوْفَةِ: وَ اللهِ لَقَدْ مَلَلْتُهُمْ وَ أَبْغَضْتُهُمْ، وَ مَلُوْنِي وَ أَبْغَضُوْنِي، وَ مَا يَكُوْنُ مِنْهُمْ وَفَاءٌ قَطٌّ، وَ اللهِ مَا لَهُمْ نِياَتٌ وَ لاَ عَزْمٌ عَلىَ أَمْرٍ، وَ لاَ صَبْرَ عَلىَ السَّيْفِ.

“Wahai Abu Abdillah, Sungguh aku menasehati dan menyayangi kamu, aku telah mendengar syiahmu di Kota Kufah menulis surat yang meminta agar engkau keluar kepada mereka. Janganlah engkau keluar kepada mereka, sungguh aku mendengar dari ayahmu beliau berkata tentang Kufah; Demi Allah, aku telah jenuh dan benci kepada mereka begitu juga mereka telah jenuh dan benci kepada kami, tidak ada yang tersisa dari janji mereka sedikitpun. Demi Allah mereka tidak memiliki niat dan tekad dalam satu permasalahan serta tidak memiliki kesabaran dalam pedang“.

Hampir semua sahabat yang hidup di masa itu memberikan nasehat dan mengingatkan Sayyidina Husain untuk tidak pergi meninggalkan Kota Mekkah untuk menuju Kufah. Tetapi walaupun semua nasehat itu ditanggapi dengan baik dan ucapan terima kasih namun beliau tetap bertekad pergi ke Kota Kufah, di dalam beberapa riwayat dikatakan, bahwa Sayyidina Husain telah beristikharah yang di dalam do’anya itu beliau mendapat isyarat untuk tetap pergi ke Kufah, dalam riwayat lain beliau bertemu dengan Rasulullah dalam tidurnya yang sepertinya juga memberikan isyarat untuk terus melanjutkan perjalanannya kesemua itu menambah kuat tekadnya untuk meninggalkan Mekkah.

إنِّيْ رَأَيْتُ رُؤْيَا، وَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ وَ أَنَا مَاضٍ لَهُ، وَ لَسْتُ بِمُخْبَرٍ بِهَا أَحَدًا حَتَّى ألقى الله

“Sungguh aku telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan beliau memerintahkan kepadaku atas satu permasalahan, dan aku tidak akan menceritakan seorang-pun sehingga aku berjumpa dengan Allah“

Perjalanan Sayyidina Husain Ke Kufah.

Keluarnya Sayyidina Husain menuju Kufah. Setelah mendengar keluarnya Sayydina Husain, Abdullah bin Umar segera pergi menyusulnya untuk mencegah perjalanan tersebut. Di tiga hari perjalanan Ibnu Umar bertemu rombongan Sayyidina Husain, setelah ditanya alasan kepergiannya Sayyidina Husain mengeluarkan setumpukan surat dari penduduk Kufah yang meminta kepada dirinya untuk datang ke Kufah, berkata Ibnu Umar; Jangan engkau datangi mereka !. Tetapi  Sayyidina Husain menolak permintaan Ibnu Umar itu. Lalu Ibnu Umar berkata;

إنِّيْ مُحَدِّثُكَ حَدِيْثًا، إنَّ جِبْرِيْلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَخَيَّرَهُ بَيْنَ الدُّنْيَا وَ الآخِرَةِ فَاخْتاَرَ الآخِرَةَ وَ لَمْ يُرِدِ الدُّنْيَا، وَ إنَّكَ بِضْعَةٌ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَ اللهِ مَا يَلِيْهَا أَحَدٌ مِنْكُمْ أَبَدًا، وَ مَا صَرَفَهَا اللهُ عَنْكُمْ إلاَّ لِلَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Aku hendak membacakan satu hadits, sesungguhnya malaikat Jibril telah datang kepada Nabi Muhammad dan memberikan dua pilihan antara dunia dan akherat, maka dia memilih akherat dan tidak menghendaki dunia”.

Sungguh engkau adalah bagian darah daging Rasulullah, demi Allah tidak ada yang diberikan seorangpun diantara kalian selamanya dan apa yang Allah berikan kepada kalian itupasti lebih baik bagi kalian“.7

Mengetahui Sayyidina Husain sedang pergi menuju Kufah, Yazid segera menulis surat kepada Ibnu Ziyad; “Telah sampai berita kepadaku bahwa, Sayyidina Husain sedang menuju ke Kufah, sungguh engkau akan mendapat ujian yang cukup berat dibanding dengan ujian yang diterima oleh gubernur-gubernur lainnya, tahan mereka jangan dibiarkan memasuki Kufah, tetapi jangan engkau perangi mereka kecuali mereka memerangimu, laporkan setiap berita baik kepadaku“.

Ditengah perjalanan menuju Kufah, Sayyidina Husain bertemu dengan ahli syair yang bernama Farazdak. Saat ditanya tentang keadaan penduduk Kufah, beliau berkata;

قُلُوْبُ النَّاسِ مَعَكَ، وَ سُيُوْفُهُمْ مَعَ بَنِيْ أُمَيَّةَ، وَ القَضَاءُ يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَ اللهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ.

“Hati-hati manusia bersama anda dan pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah, al-Qadha (ketentuan) itu turun dari langit dan Allah itu melakukan apa yang Dia kehendaki”.

Sayyidina Husain menjawab; Engkau benar, semuanya telah ditentukan oleh Allah, terjadilah apa yang dikehendaki-Nya. Setiap saat Allah itu selalu terjaga. Bila mendapatkan ketentuan yang disukai hendaknya kita mensyukuri nikmat itu, syukur itu sendiri merupakan satu gerakan yang dibantu oleh Allah. Jiak mendapatkan ketentuan di luar apa yang kita harapkan janganlah melanggar al-hak (kebenaran) dan hendaknya ketakwaan selalu mengiringi dirinya“.

Kemudian Farazdak melontarkan beberapa pertanyaan seputar manasik haji kepada Sayyidina Husain, setelah itu itu Sayyidina Husain melanjutkan perjalanannya.8

Ketiak Rombongan Sayyidina Husain melewati perkampungan atau suku-suku yang menetap diantara Kota Mekkah dan Kufah banyak diantara mereka yang ikut serta dalam rombongan cucu Rasul tersebut, sehingga rombongan itu bertambah semakin banyak.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, Qais bin Mashar as-Shaidawi yang membawa surat Sayyidina Husain (ada juga yang mengatakan orang yang membawa surat itu bernama Abdullah bin Maqtir saudara sesusuan Sayyidina Husain) ke Kufah ketika tiba di Kota Qadisiah ditangkap oleh Hushain bin Numair lalu dibawa menghadap Ubaidillah bin Ziyad. Kemudian Ibnu Ziyad memerintahkan kepada Qais untuk menaiki gedung gubernur untuk mencaci Ali bin Abi Thalib dan Sayyidina Husain. Maka Qais bin Mashar as-Shaidawi naik ke atas gedung setelah mengucapkan hamdalah dan sholawat kepada Rasul lalu beliau berkata; Wahai Manusia ! Ketahuilah sungguh Sayyidina Husain bin Ali itu adalah sebaik-baik manusia (pada masa itu) dia adalah putra Fathimah binti Rasulillah dan aku ini utusannya kepada kalian. Aku telah berpisah dengannya di wadi Dzi Ramlah, maka segerah sambut dan ta’atilah beliau. Kemudian dia melaknat Ubaidillah bin Ziyad dan ayahnya lalu memohon ampunan bagi Ali bin Abi Thalib serta Sayyidina Husain.

Melihat sikap Qais ini Ibnu Ziyad sangat murka dan dia langsung memerintahkan untuk melemparnya dari gedung, (dalam riwayat) beliau wafat karena tubuhnya hancur tetapi riwayat lain menyebutkan; dia tidak wafat tetapi sebagian besar anggota tubuhnya remuk dan patah, lalu seseorang yang mirip dengan Abdul Malik bin Umair al-Bajali menghampiri dan langsung menyembelihnya seraya berkata; Sungguh aku melakukan ini tidak lain kecuali hanya untuk lebih mempercepat menghilangkan rasa sakit.

Sementara Sayyidina Husain terus berjalan menuju Kufah dan beliau tidak mengetahui apa yang telah terjadi di kota tersebut.

Ketika mendekati Kota Kufah, rombongan Sayyidina Husain bertemu dengan seseorang dari Bani Sa’ad yang baru kembali dari Kufah. Sayyidina Husain bertanya; Bagaimana engkau dapati penduduk Kufah ? orang itu berkata;

وَ اللهِ لَمْ أَخْرُجْ مِنَ الْكُوْفَةَ حَتَّى قُتِلَ مُسْلِمُ بْنِ عَقِيْلٍ وَ هَانِئ بن عُرْوَةَ وَ رَأَيْتُهُمَا يَجْرَانِ بِأَرْجُلِهِمَا فِي السُّوْقِ.

“Demi Allah, aku tidak keluar dari Kota Kufah sehingga Muslim bin Agil dan Hani bin Urwah telah dibunuh dan mereka berdua berlari tanpa berkendara di pasar”

Mendengar berita yang terjadi pada saudaranya Muslim bin Agil dan Hani bin Urwah, Sayyidina Husain hanya dapat mengatakan; Inna lillahi wa inna ilaihi Rajiun, Kalimat istirja’ ini diulangnya berkali-kali lalu beliau berkata; “Sungguh tidak ada kehidupan setelah mereka berdua“.

Sebagian pengikutnya mengatakan; “Wahai Sayyidina Husain, anda tidak sama dengan Muslim bin Agil, kami percaya jika engkau datang ke Kufah pastilah mereka akan segera membaiat dan menjadi pendukungmu“.

Sementara keluarga dan kerabat Muslim bin Agil bin Abi Thalin mengatakan; “Demi Allah, kami tidak akan kembali sehingga dapat menuntut balas atas kematian Muslim bin Agil atau kami merasakan seperti apa yang telah dirasakan oleh saudara kami yaitu Muslim bin Agil“.

Sayyidina Husain melanjutkan perjalanannya, saat tiba di wilayah Zarut beliau mendengar berita wafatnya utusan yang beliau utus saat berada di wilayah Hajir untuk membawa surat kepada penduduk Kufah. Mendengar berita ini Sayyidina berkata; “Sungguh Syiah-kami telah menipu kami, barangsiapa diantara kalian yang hendak berpaling maka tidak mengapa bagi kalian untuk pergi karena memang tidak ada perjanjian antara kalian dengan kami“.

Melihat situasi yang genting dan mendengar tawaran dari Sayyidina Husain ini, akhirnya banyak dari rombongan pergi meninggalkan Sayyidina Husain dan tidak tersisa kecuali rombongan pertama yang telah ikut serta sejak dari Kota Mekkah. Orang-orang yang pergi meninggalkan Sayyidina Husain itu karena pada mulanya mereka menyangka situasi Kufah sudah dikuasai, aman dan kondusif, oleh kerana itu saat mengetahui keadaan sebenarnya mereka segera meninggalkan rombongan Sayyidina Husain. Sedang rombongan yang keluar dari Mekkah sudah mengetahui keadaan sebelumnya sehingga mereka tidak terlalu kaget dengan situasi Kufah.

Ketika masuk waktu malam, Sayyidina Husain memerintahkan untuk membawa persiapan air yang banyak. Saat melewati wadi (oase) Aqabah mereka turun di wadi itu dan mengambil air sebanyak-banyaknya.

Berkata Yazid bin Rasyk, aku mendengar dari orang yang bertemu langsung dengan Sayyidina Husain dia berkata; Saat aku melihat ada rombongan yang berhenti di tengah padang pasir dan mengambil air, aku tanyakan kepada salah seorang diantara mereka; Untuk siapakah air ini ? mereka menjawab; Ini untuk Sayyidina Husain. Lalu aku segera menghampiri salah satu tenda di dalamnya aku melihat ada seorang tua yang sedang membaca al-Qur’an sambil meneteskan air mata yang membasahi pipi dan janggutnya. Aku bertanya kepadanya; Wahai putra dari putrinya Rasulullah, mengapa engkau hendak mendatangi negeri ini dan berhenti di tengah padang pasir yang tandus tidak ada seorangpun ?

Sayyidina Husain menjawab; Inilah surat-surat dari penduduk Kufah yang meminta kepadaku untuk mendatangi mereka tetapi sepertinya mereka hendak membunuhku, jika sampai hal ini terjadi sungguh mereka telah melanggar ketetapan Allah yang membuat mereka menjadi hina“.

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

Ditulis dalam Uncategorized |

  • free counters
  • blog counter
    blog counter
  • Halaman

    • Aqidah
    • Daftar Isi
    • FILE DOWNLOAD
    • Fiqih
    • Hadits
    • Jadwal Ta’lim dan Haul
    • Profile
    • Sejarah
    • Tafsir
    • Tauhid
    • Tokoh
    • Umum
  • ARSIP

  • Blogroll

    • Habaib
    • Majelis rasululloh
    • Nurul Musthofa
    • Rabithah Alawiyah
    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Kitab Online

    • Al Adzkar ( An-Nawawie)
    • Al- Umm ( As-Syafiie)
    • Fatul Bari
    • Shahih Buchori
    • Shahih Muslim
    • Sunan Abu Dawud
    • Sunan Anasai'
    • Sunan At-Tirmidzy
    • Sunan Ibnu Majah
    • Tafsir Assadi
    • Tafsir Bhagawy
    • Tafsir Ibnu Katsir
    • Tafsir Muyasar
    • Tafsir Qurtubi
    • Tafsir Tabary
  • Zakat

    • Hitung Zakat
  • Tulisan Terkini

    • Menahan Hak Orang Lain
    • Hadroh
    • Bertetangga Menurut Islam
    • Mencela dan Mencaci…
    • Ara aita
    • Berbakti Kepada Orang Tua
    • Pemimpin yang diinginkan Rasul
    • Dua Pahala
    • Allah Malu dengan Orang itu
    • Malu Sebagian dari Iman
    • IBLIS.
    • Bid’ah
    • Al-kautsar
    • Ibadahnya para malaikat
    • Pemimpin Yang Diinginkan Rasul
  • Layak Dibaca

  • Pengumuman

  • Klik tertinggi

    • majelisnurulfajri.files.w…
  • Tulisan Teratas

    • Profile
    • Menahan Hak Orang Lain
    • Sejarah
    • Rasulullah dan Syairnya
    • Aqidah
    • Imam Syafii
    • Tafsir
    • Daftar Isi
    • Fiqih
  • RSS Rangkuman

    • Menahan Hak Orang Lain 2 Agustus 2009
    • Hadroh 20 Juli 2009
    • Bertetangga Menurut Islam 6 Juni 2009
    • Mencela dan Mencaci… 5 Juni 2009
    • Ara aita 24 April 2009
  • Spam Blocked

    41 komentar spam diblokir oleh
    Akismet
  • PARA TAMU

    • 11,838 hits
  • Site Meter
  • SAHABAT

    ahmad sina on Jadwal Ta’lim dan H…
    Sewa Projector Murah on Menahan Hak Orang Lain
    Maman Ubaidurrahman on Fiqih
    Ahmad Waliy on Jadwal Ta’lim dan H…
    Maman Ubaidurrahman on Profile
  • Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net

  • Meta

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com

Blog pada WordPress.com.

Tema: MistyLook oleh Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com